Suatu pagi di kelas Desain Grafis di Scuola Internazionale di Grafica di Venesia, profesor Paola Ricci—profesor yang nyaris mengeluarkan Pietro dari sekolah (dan saat itu beliau sepenuhnya benar)—melangkah masuk ke studio dan bertanya apa yang terjadi tepat pada detik seorang desainer menarik satu goresan di atas lembar kosong. Alih-alih membuka buku panduan tata letak atau sistem grid, beliau menceritakan sebuah kisah karya Italo Calvino berjudul “Un segno nello spazio” (“Sebuah Tanda di Ruang Angkasa”, dari Le Cosmicomiche, 1965).
Dalam kisah tersebut, sang narator kosmik purba Qfwfq mengenang masa ketika alam semesta masih benar-benar kosong, seragam, dan tanpa ciri. Setiap titik di kehampaan tampak identik dengan titik lainnya, dan dibutuhkan dua ratus juta tahun bagi galaksi untuk menyelesaikan satu putaran. Saat melewati satu titik acak di ruang angkasa, Qfwfq memutuskan untuk menggambar tanda paling pertama agar ia dapat mengenali titik persis itu ketika ia kembali berputar dua ratus juta tahun kemudian.
Ketika Qfwfq akhirnya kembali dua ratus juta tahun kemudian, ia mendapati bahwa seorang saingan yang pencemburu bernama Kgwgk telah menghapus tandanya dan mulai menyebarkan tanda-tanda palsu di seluruh kosmos. Tak lama kemudian, seluruh alam semesta dibanjiri triliunan tanda tiruan yang dibuat tanpa usaha hingga ruang angkasa itu sendiri berubah menjadi sup kekacauan bising visual—dan Qfwfq ditinggalkan seorang diri mencari kembali keharusan sunyi dari tanda pertama yang jujur itu.
Enam puluh tahun setelah Calvino menulis Qfwfq, kecerdasan buatan dapat membanjiri layar dengan sejuta tanda dalam satu detik. Itulah sebabnya kembali pada satu sudut pandang manusia yang penuh kesengajaan—#beautifullysimple—menjadi jauh lebih penting daripada sebelumnya.